Menikmati Wisata Gastronomi Sego Lemang di Desa Banjar Banyuwangi

Banyuwangi 21 Feb 2021

Lokalx.id - Sebagai seorang travel blogger, menikmati kuliner lokal ketika berkunjung ke suatu daerah sudah menjadi "ritual wajib".

Kenapa?

Karena kuliner lokal tiap daerah itu memiliki cita rasa yang khas dan sajian yang kadang unik.  

Misalnya saja, ketika sedang jalan-jalan ke Yogyakarta, saya sempat mencicipi Soto Batok Mbah Katro yang ada dekat Candi Sambisari, Sleman.

Seperti namanya, Soto Batok merupakan soto yang dihidangkan dengan mangkuk bulat yang terbuat dari batok kelapa.

Sama halnya dengan soto-soto lainnya, Soto Batok memiliki komposisi serupa seperti: sayuran kol, tauge, kuah soto, dan nasi.

Akan tetapi pembedanya, Soto Batok menggunakan irisan daging sapi sebagai sajian utamanya.

Selain itu, kuah yang disajikan sendiri juga agak lebih bening.

Ini membuat cita rasa yang disajikan sendiri menjadi lebih segar, berbeda kuah kental yang kadang bikin agak enek.

Kelezatan serta cara penyajian seperti itu banyak memberi inspirasi untuk blog personal saya.

Nah demikian pula ketika berada di Banyuwangi, saya juga mendapatkan pengalaman kuliner menarik lainnya, terutama ketika mencoba mengikuti Wisata Gastronomi Sego Lemang yang diadakan di Taman Langit, Desa Banjar.

Ketertarikan saya mengikuti Wisata Gastronomi ini tak lepas dari rasa penasaran saya tentang Wisata Gastronomi itu sendiri. Sebab sejauh sepemahaman saya, di Indonesia, konsep Wisata Gastronomi itu masih sangat jarang.

Wisata Gastronomi sendiri merupakan wisata

Selain itu, mendengar kata "Lemang", saya berpikir bahwa masakan yang akan disajikan kurang lebih sama dengan Lemang yang ada di daerah Sumatera. Namun ternyata pendapat saya itu keliru.

Nasi Lemang di Banyuwangi: Cara Bertahan Hidup Saat Jaman Penjajahan

Kuliner Nasi Lemang  pada dasarnya merupakan pembuatan nasi dengan menggunakan bambu yang dibakar di bara api.

Kuliner Nasi Lemang di Banyuwangi ini sudah dipergunakan oleh masyarakat Banyuwangi tepatnya dari Desa Banjar Kecamatan Licin.

Dahulu saat jaman penjajahan, cara memasak memakai bara api digunakan oleh masyarakat setempat agar dapat bertahan hidup di dalam hutan. Sebab masyarakat Banyuwangi saat itu kebanyakan menjadi buronan para penjajah.

Mereka biasanya masuk ke hutan hanya membawa beras secukupnya. Kemudian memotong bilah bambu dan daun pisang untuk membuat nasi dengan bara api.

Sambil menunggu beras tersebut matang menjadi nasi, mereka biasanya melakukan pekerjaan mencari hasil hutan atau berburu dan baru kembali ketika nasi sudah matang.

Cerita tersebut merupakan cerita yang saya dapatkan ketika mengikuti wisata Gastronomi yang ada di desa Banjar, Banyuwangi.

Dari sejarah kuliner nasi lemang yang dilakukan oleh masyarakat Desa Banjar ini, maka dibuatlah wisata Gastronomi Sego Lemang.

Wisata Gastronomi itu sendiri berbeda dengan wisata kuliner karena dalam wisata gastronomi ini teman-teman dilibatkan dalam proses pembuatan nasi lemang hingga siap disantap, sehingga  traveller dapat pengetahuan baru soal cara membuat nasi lemang dari desa Banjar, Banyuwangi. Menarik kan?

Kita langsung diajak untuk ikut terlibat dalam pembuatan nasi lemang yaitu dari membuat bara api untuk membakar, menyiapkan bambu dan daun pisang, meracik nasi lemang dan memasukan ke dalam bambu yang sudah dibersihkan lalu diletakkan ke dalam bara api.

Bambu untuk memasak nasi lemang pun tidak boleh sembarangan. Bambu yang dipilih tidak bambu yang terlalu muda atau terlalu tua. Jika yang dipilih bambu yang sudah tua bisa membuat nasi terlalu lama memasaknya karena api butuh waktu untuk memanaskan bambu.

Aroma asap di pembakaran nasi lemang mulai beraroma sedap, sepertinya nasi lemang sudah bisa disantap. Bambu dibelah menjadi dua, lalu nasi yang dibungkus daun pisang bisa diambil dan dibuka. Aroma semerbak dari nasi lemang ini tercium cukup sedap, sudah pasti membuat kita makin tidak sabar menyicipi nasi lemang ini.

Pengelola juga menyuguhkan sambal khas desa Banjar yaitu Sambel Lucu. Lucu ini adalah bahasa osing dari Kecombrang atau Henjo (Kecombrang dalam bahasa Sunda). Sambal Kecombrang ini punya aroma dan rasa yang khas seperti ada rasa asam kecut dan sedikit sensasi dingin seperti mint.

Kalian tahu kenapa ada kecombrang dalam suguhan Nasi Lemang ala Desa Banjar?. Karena di Desa Banjar, banyak tumbuh Kecombrang, baik kecombrang merah maupun hijau.

kopi utek, kopi khas banyuwangi

Kita juga disuguhkan minuman berupa kopi utek, salah satu kopi khas Banyuwangi. Kopi Utek merupakan kopi tubruk yang penyuguhannya berbeda dengan kopi tubruk lainnya. Kopi Utek ini dicampur dengan gula dalam gelasnya, melainkan gulanya disuguhkan diatas tatakan gelas kopi. Gulanya pun menggunakan potongan gula aren yang dibuat secara khusus bukan dari potongan gula aren jadi. Gula aren tersebut seperti cookies jika kita memesan kopi latte di kafe-kafe.

Cara meminum kopi utek bebas dan kembali ke selera masing-masing, namun saat Wisata Gastronomi , cara meninum Kopi Utek ini adalah Kopi disruput, lalu potongan gula aren digigit perlahan akan muncul sensasi manis khas gula aren yang nikmat. Cara minum kopi utek yang berbeda ini menambah rasa senang saat meminum kopi khas banyuwangi tersebut.

Tempat Wisata Gastronomi Nasi Lemang ini diadakan di Taman Langit, Desa Banjar Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi yang berdekatan dengan jalur menuju Pos Pendakian Kawah Ijen. Tempatnya menarik karena dilakukan di tengah tanah  yang sekitarnya dikelilingi area persawahan yang asri dan punya terasering yang indah. Jika langit cerah, dari taman langit ini kita bisa melihat pemandangan laut dan gunung dari kejauhan juga pemandangan senja yang indah.

Pengalaman ikut wisata Gastronomi Nasi Lemang di Desa Banjar, Banyuwangi ini akan jadi salah satu pengalaman tak terlupakan yang membuat kalian ingin ke Banyuwangi menikmati potensi wisata lainnya kembali.

Tag

Mantap! Kamu telah berhasil berlangganan.
Mantap! Selanjutnya, selesaikan pembayaran untuk akses penuh.
Selamat datang kembali! Kamu telah berhasil masuk.
Sukses! Akun kamu telah aktif, sekarang kamu bisa mengakses semua konten.